HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA DIBAWAH 6 TAHUN DI TK PERTIWI KOTA BANGKINANG

Penulis

  • Deinike Wanita Marwan Universitas Abdurrab
  • Nurlaila Nurlaila Universitas Abdurrab
  • Evy Eryta Rumah Sakit Umum Daerah Kota Dumai
  • Elvina Zuhir Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang
  • Risnandar Risnandar Rumah Sakit Umum Daerah Kota Dumai

DOI:

https://doi.org/10.36341/cmj.v6i1.3287

Kata Kunci:

Anak bawah 6 tahun, status nutrisi, level aktivitas fisik

Abstrak

Obesitas dapat terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi. Faktor yang berperan dalam menentukan status gizi anak adalah pola makan dan aktivitas fisik. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan status gizi yang dinilai berdasarkan indeks massa tubuh pada anak usia di bawah 6 tahun di TK Pertiwi Kota Bangkinang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu observasional deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, timbangan dan microtoise untuk mengukur berat badan dan tinggi badan. Penelitian ini menemukan subjek dengan indeks massa tubuh normal, tidur rata-rata selama 11,3 jam, melakukan aktivitas sedentari selama 10,90 jam dan aktivitas aktif selama 1,96 jam sehari, sedangkan pada subjek dengan indeks massa tubuh di atas rata-rata tidur normal selama 13,69 jam, melakukan aktivitas menetap selama 8,58 jam dan melakukan aktivitas aktif selama 1,13 jam sehari. Pada penelitian ini didapatkan 60 responden yang memiliki indeks massa tubuh normal, dan sebanyak 10 responden memiliki indeks massa tubuh yang kelebihan berat badan atau gemuk. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat fisik. aktivitas dan status gizi pada anak di bawah usia 6 tahun

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

[1] Kemenkes RI and BPS (2019) ‘Laporan Pelaksanaan Integrasi Susenas Maret 2019 dan SSGBI Tahun 2019’, p. 69.
[2] Dinas Kesehatan Riau. (2020b) ‘Profil Kesehatan Provinsi Riau’, Journal of Chemical Information and Modeling, (9), p. 19.
[3] Kemenkes (2021) ‘Penurunan Prevalensi Stunting tahun 2021 sebagai Modal Menuju Generasi Emas Indonesia 2045’.
[4] Kemenkes (2018) ‘Buletin Stunting’, Kementerian Kesehatan RI, 301(5), pp. 1163–1178.
[5] WHO (2020) ‘Global nutrition targets 2025: stunting policy brief’, Nutrition and Food Safety, 122(2), pp. 74–76, 78. doi: 10.7591/cornell/9781501758898.003.000
[6] Andini, V., Maryanto, S. and Mulyasari, I. (2020) ‘The Correlation Between Birth Length, Birth Weight and Exclusive Breastfeeding with The Incidence Of Stunting in Children Age Group 7-24 Months in Wonorejo Village, Pringapus District, Semarang Regency’, Jurnal Gizi Dan Kesehatan, 12(27), pp. 49–58.
[7] WHO, & U. (2019) ‘Low birthweight estimates’, World Health Organization, 4(3), pp. 3–9.
[8] IDAI (2008) Buku Ajar Neonatologi. Jakarta.
[9] Cutland, C. L. et al. (2017) ‘Low birth weight: Case definition & guidelines for data collection, analysis, and presentation of maternal immunization safety data’, Vaccine, 35(48), pp. 6492–6500. doi: 10.1016/j.vaccine.2017.01.049.
[10] Jayanti, F. A., Dharmawan, Y. and Aruben,
R. (2017) ‘Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Kota Semarang tahun 2016’, Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 5(4), pp. 812–822. Available at: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/ article/view/18782.
[11] Ludyaningrum, R. M. (2016) ‘Hubungan antara umur kehamilan, kehamilan ganda, hipertensi dan anemia dengan kejadian

berat badan lahir rendah (BBLR)’, Jurnal Berkala Epidemiologi, 4(3), pp. 384–395. doi: 10.20473/jbe.v4i3.
[12] Atikah, R. et al. (2018) Stunting dan Upaya Pencegahannya, Buku stunting dan upaya pencegahannya.
[13] Anisa, P. (2012) ‘Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 25-60 Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012’, Universitas Indonesia, pp. 1–125.
[14] Marfuah, I. N. (2022) ‘Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stunting Pada Balita Usia 6-23 Bulan Di Puskesmas Gondangrejo (Analisis Data Sekunder Tahun 2021)’.
[15] Blake, R. A. et al. (2016) ‘LBW and SGA impact longitudinal growth and nutritional status of Filipino infants’, PLoS ONE, 11(7), pp. 1–13. doi: 10.1371/journal.pone.0159461.
[16] Murdaningsih Sundari, R. (2018) ‘Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Perilaku Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian Stunting Baduta di Puskesmas Sangkrah Kota Surakarta’.
[17] Putra, O. (2016) ‘Pengaruh BBLR Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12-60 Bulan di wilayah Kerja Puskesmas Pauh’, Jurnal Riset Hesti Medan Akper Kesdam I/BB Medan, 2(2), p. 129. doi: 10.34008/jurhesti.v2i2.79.
[18] Paramashanti, B. A., Hadi, H. and Gunawan, I. M. A. (2016) ‘Pemberian ASI eksklusif tidak berhubungan dengan

stunting pada anak usia 6–23 bulan di Indonesia’, Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), 3(3), p. 162. doi: 10.21927/ijnd.2015.3(3).162-174.
[19] Ayatullah, M. N. U. R. (2020) ‘Hubungan Antara Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Dengan Kejadian Stunting Pada Balita’.
[20] Widanti, Y. A. (2017) ‘Prevalensi, Faktor Risiko, dan Dampak Stunting pada Anak Usia Sekolah’, Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 1(1), pp. 23–28.
[21] Nasution, D., Nurdiati, D. S. and Huriyati,
E. (2014) ‘Berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan’, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 11(1), p. 31. doi: 10.22146/ijcn.18881.
[22] Apriluana, G. and Fikawati, S. (2017) ‘Analisis Faktor-Faktor Risiko terhadap Kejadian Stunting pada Balita’, Jurnal Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masarakat, Vol. 28 No, pp. 247–256.
[23] Hafid, F. and Razak Thaha, A. (2015) ‘Faktor Risiko Stunting Usia 6-23 Bulan di Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto’, Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 11(3), pp. 139–146. Available at: http://journal-
old.unhas.ac.id/index.php/mkmi/article/vie w/518.

Diterbitkan

2023-01-31

Terbitan

Bagian

Articles